Minggu, 29 Agustus 2010

TeknoD (4), Kulkul, Alat Komunikasi Tradisional yang Masih Lestari

Kulkul adalah salah satu alat komunikasi tradisional yang masih lestari di Denpasar dan Bali. Kulkul yang biasa disebut kentongan pun terdapat di hampir seluruh pelosok daerah di Indonesia. Tapi, kenapa kulkul masih lestari, padahal teknologi komunikasi sudah semakin maju? Karena kulkul, memiliki hal yang tidak dimiliki oleh TIK masa kini. Apa saja hal tersebut? Untuk mengetahuinya, baca terus artikel ini, ya!

Benda dari bahan baku kayu atau bambu ini sering terdapat di organisasi masyarakat (banjar) atau pura di Bali. Fungsinya, adalah untuk menandakan adanya pertemuan rutin, pengerahan tenaga kerja, atau adanya gejala alam. Bunyi kulkul besar yang terdengar oleh masyarakat di sekitar banjar membuatnya sangat berguna untuk mengumpulkan masyarakat banjar pada waktu yang telah ditentukan. Lain halnya dengan alat komunikasi seperti HP (Handphone). Capai kan, kalau harus menelepon masyarakat banjar satu persatu hanya untuk memberi tahu ada pertemuan?

Pembuatan kulkul tidaklah mudah. Mulai dari mencari kayu atau bambu, proses pembuatan, sampai penyelesaian dan pelepasan kulkul harus dilalui dengan upacara-upacara khusus, dan diadakan pada hari-hari (dewasa) yang baik. Maka dari itu, kulkul dipercaya masyarakat Bali sebagai salah satu benda suci berkekuatan magis dan keramat. Kesucian kulkul pun dijaga dengan meletakkan kulkul di bangunan khusus bernama “Bale Kulkul” yang terletak di depan pelataran bale banjar atau pura.

Kulkul memiliki jenis dan bunyi yang khas, dan setiap bunyi memiliki artinya tersendiri. Ada jenis kulkul untuk Dewa (akan dibunyikan pada saat Dewa Yadnya), Bhuta Kala (dibunyikan untuk menstabilkan kehidupan manusia dengan alam), masyarakat (untuk meminta masyarakat berkumpul), atau hanya dijadikan suvenir sebagai salah satu barang antik. Menarik bukan, kulkul ini?


Hampir semua kegiatan di Bali disertai dengan kulkul. Mulai dari pagelaran seni, upacara adat, meminta masyarakat berkumpul, atau sebagai alat untuk menyatakan resminya pembukaan suatu acara. Jadi, tidak hanya sebagai alat komunikasi, kulkul juga memilki fungsi untuk menjembatani kegiatan manusia dengan Dewa, kegiatan manusia dengan manusia lainnya, atau kegiatan manusia dengan Bhuta Kala sebagai penstabil alam ini. Di Bali, fungsi ini disebut sebagai Tri Hita Karana. Jadi, lebih hebat mana, kulkul yang tradisonal atau HP yang modern sebagai alat komunikasi? Yang pasti, jangan lupakan aset budaya kita sendiri, seperti kulkul ini, walaupun teknologi semakin maju. Ok, teman?


Sumber:

id.wikipedia.org

Sumber Gambar :

www.google.com

0 komentar:

Poskan Komentar